Senin, 21 November 2011

ASAL-USUL NAMA SIDANG MAS

            Alkisah dahulu kala terdapat sebuah hutan di sekitar Sungai Musi. Pada waktu itu Nabi Muhammad belum dilahirkan ke muka bumi. Waktu itu makhluk hidup dapat berbicara seperti manusia. berjuta tahun tempat itu tidak dihuni manusia hanya dihuni hewan-hewan buas dan tentu saja liar.
http://irwanpratubangsawan.files.wordpress.com/2011/11/para-tetua-adat.jpg?w=234&h=216Suatu hari sekelompok orang perantauan datang ke tempat tersebut. Mulanya mereka hanya bermaksud untuk sekedar melintas dan beristirahat sejenak.  Saat mereka beristirahat, mereka dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang sangat memukau. Tumpukan emas yang sangat banyak di hadapan mereka. Melihat emas yang sangat banyak itu, mereka seolah terhipnotis mendekat, mengamati, dan meraba emas-emas itu. Semua terpesona dan seolah tidak percaya. Seumur hidup belum pernah mereka melihat emas sebanyak itu.
Mereka semua kebingungan. Apa yang harus mereka lakukan terhadap emas itu? Dijual? Dipakai atau diamankan saja? Karena bingung tidak tahu emas tersebut mau diapakan dan karena takut terjadi perselisihan di antara mereka, mereka pun mengadakan sidang untuk membahas penggunaan emas tersebut.
“Saudara-saudara, kita berkumpul di sini bermaksud untuk merundingkan sesuatu yang sangat penting. Kalau tidak kita rundingkan, saya khawatir akan berakibat buruk bagi kelangsungan hubungan kita semua,” ucap salah satu dari mereka memulai pembicaraan.
”Saudara-saudaraku, seperti telah kita ketahui bersama, kita hadir di tempat ini semula hanya untuk beristirahat. Kemudian kita mendapatkan sesuatu yang sangat mengejutkan, yakni setumpuk emas. Tumpukan emas ini tidak terhingga nilainya. Tumpukan emas ini tentunya sesuatu anugerah bagi kita semua kalau kita bisa mengelolahnya sedemikian rupa. Sekarang kita butuh kesepakatan bersama, mau kita apakan emas-emas ini,” lanjutnya.
Selama sidang berlangsung, berbagai pendapat dan saran pun dikumpulkan. Akhirnya disepakati bahwa emas-emas itu didiamkan pada tempatnya.
“Saudaraku, terima kasih akhirnya kita bisa membuat keputusan yang bijak bahwa emas itu kita biarkan saja. Akan tetapi, kita tidak bisa membiarkannya begitu saja. Bisa saja emas ini diambil oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Saya punya usul, untuk menjaga emas ini, bagaimana kalau kita bermukim di sini. Selain menjaga emas ini, tempat ini juga memang layak untuk kita huni bersama. Saya yakin kehidupan kita akan lebih baik jika kita tinggal di sini.
“Saya setuju,’ jawab salah satu dari mereka.
“Saya juga setuju,” jawab yang lain.
“Kami setuju,” jawab beberapa peserta siding secara bersamaan.
Akhirnya disepakatilah bahwa mereka menetap di tempat tersebut.
Kehidupan mereka saat itu sangat unik. Mereka menanamkan jalan hidup yang sangat lurus. Sikap mereka sangat hebat, antara lain dalam hal menolong sesama, tidak mengganggu orang lain, dan menjaga kepentingan barsama. Sikap masyarakat tersebut sangat patut diacungi jempol.
Seiring dengan perjalanan waktu pemukiman itu terus dihuni oleh manusia hingga kini. Sampai sekarang orang meyakini bahwa emas itu masih ada. Akan tetapi, ada beberapa kepercayaan yang muncul. Pertama, mereka percaya hanya orang-orang yang memiliki tuah (kekuatan gaib) yang bisa melihatnya. Kedua, ada juga yang mengatakan bahwa emas itu sekarang terkubur di dalam tanah. Sebagai buktinya, saat ini setiap warga yang menggali sumur, mereka akan mendapatkan serbuk dan lempengan batu menyerupai emas.
Karena di tempat tersebut pernah terjadi persidangan emas, mereka sepakat memberi nama mereka tempat tinggal mereka dengan nama Sidang Emas. Desa Sidang Ema

Asal Mula Nama Desa Pengumbuk



Zaman dahulu ada sebuah desa misterius yang dihuni orang-orang sakti. Salah satu orang sakti itu adalah Aryo Carang dan putrinya bernama Dayang Rindu. Aryo Carang membangun sebuah mahligai untuk tempat tinggal Dayang Rindu. Mahligai yang dibangun Aryo Carang terletak di belakang desa.
Suatu hari Dayang Rindu pergi ke sungai untuk mandi. Tiba di sungai rambut putri gugur sehelai. Putri mengambil rambutnya yang gugur tersebut dan memasukkan rambutnya ke dalam bokor (baskom). Tanpa diketahui putri ternyata bokor tersebut hanyut terbawa air. Putri pulang ke mahligainya tanpa mengetahui kalau bokornya sudah tidak ada lagi.
Bokor milik putri terus hanyut mengikuti arus air hingga sampai ke tempat mandi Sunan Palembang. Seorang penjaga tempat mandi sunan melihat sebuah benda yang hanyut.
“Benda apa itu?” tanyanya dalam hati. Ia pun mendekati benda itu dan mengambilnya.
“Bagus sekali benda ini, tetapi aku tidak berani mengambilnya. Lebih baik kuserahkan saja benda ini pada sunan.” Segera ia membawa bokor kehadapan sunan.
“Tuanku, hamba penjaga tempat mandi datang menghadap.”
“Ada apa engkau berani menghadapku?” tanya raja.
“Hamba telah menemukan benda ini di tempat mandi tuanku. Sepertinya benda ini hanyut terbawa air. Hamba menghadap bermaksud untuk menyerahkan benda ini pada tuanku.”
“Baik. Aku terima. Bawa kemari benda itu!”
Penjaga tempat mandi pun berjalan perlahan dan menyerahkan bokor milik Dayang Rindu kepada sunan. Setelah itu ia pamit dari hadapan sunan.
Setelah menerima benda tersebut, sunan langsung membuka bokor tersebut. Ia sangat terkejut ternyata bokor itu berisi rambut.
“Rambut siapa ini. Kalau rambutnya saja bagus seperti ini, pasti pemiliknya sangat cantik. Aku harus menemukan pemilik rambut tersebut dan akan kujadikan istri,” kata sunan dalam hati.
“Pengawal, kemari!”  teriak sunan kepada pengawalnya.
“Duli tuanku, hamba menghadap,” tergesa-gesa pengawal menghadap sunan.
“Segera kau pergi. Cari dan temukan  pemilik rambut ini. Kalau sudah ketemu langsung kau bawa ia menghadapku,” perintah sunan.
“Baik, Tuanku. Hamba permisi untuk segera mencari pemiliki rambut itu.”
“Silakan.”
Pengawal pun segera mencari mencari pemilik rambut yang ada dalam bokor.
Setelah keluar masuk dari satu desa ke dasa lain, pengawal berhasil menemukan pemilik rambut tersebut. Para pengawal sunan langsung menangkap dan membawa putri untuk menghadap Sunan Palembang. Mereka mengendarai perahu kajang lake yang dikayuh oleh empat belas orang.
Di tengah perjananan, Dayang Rindu memohon kepada para pengawal sunan untuk berlabuh di suatu tempat di sebelah ilir desa. Setelah merapat ke tebing, tiba-tiba Dayang Rindu langsung melompat ke darat dan berlari meninggalkan pasukan sunan. Pengawal sunan langsung mengejar Dayang Rindu dan mereka berhasil menemukan Dayang Rindu.
Setelah ditemukan para pengawal sunan mengumbuk (merayu) Dayang Rindu agar mau ikut ke Palembang untuk menghadap sunan. Dayang Rindu tidak mau ikut. Para pengawal tetap memaksa. Saat pengawal lengah Dayang Rindu langsung kabur dan menghilang. Kali ini pengawal sunan tidak berhasil menemukan Dayang Rindu. Mereka pun pulang dengan tangan hampa.
Tempat putri kabur dan menghilang sekarang terletak di belakang masjid Al-Muttagin di Desa Pengumbuk. Nama Desa Pengumbuk diambil dari kata mengumbuk (merayu). Desa Pengumbuk terletak di Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Asal Mula Tanah Tanjung Mahligai (Cerita rakyat Tebing abang)


Dahulu kala ada seorang putri yang sangat cantik namanya putri Mahligai, ia adalah selir dari sunan yang memerintah di Desa Tebing abang. Kecantikan Putri sangat luar biasa.
Suatu ketika ada pasukan Belanda yang masuk ke Desa Tebing abang. Pasukan itu dipimpin oleh seorang Jendral, saat Jendral melihat putri Mahligai ia langsung jatuh hati pada Putri dan ia pun ingin memiliki sang Putri, walau dengan cara apapun. Mendengar hal itu putri menjadi cemas dan panik, ahirnya ia menceritakan semuanya pada sunan, setelah mendengar cerita Putri sunan mencoba menenangkan Putri, ia mencoba mencari cara agar Putri selamat dari kejaran Jendral, ahirnya Jendral mendapat ide bahwa cara satu-satunya adalah menyembunyikan Putri ditempat yang paling aman yaitu diTanjung yang bereda di hutan. Ia bersama pengawalnya yang bernama Siden ali segera membawa putrid ketempat itu.
Setelah sampai sunan berkata pada Putri,“ Mahligai kau harus bersembunyi disini, jika ada bahaya sebuah wahyu akan menolong mu”. Putri hanya mengangguk. Sunan dan Siden ali pun meninggalkan Putri sendirian, di sana Putri membuat tempat persembunyian yang disebut Mahligai untuk mengintip pasukan Jendral.
Setelah Jendral mengetahui bahwa Putri telah di sembunyikan oleh Sunan ia segera mencari Putri ke berbagai tempat, tidak lama kemudian ia mendengar bahwa Putri bersembunyi di Tanjung. Jendral tidak membuang waktu ia lansung pergi ke Tanjung tempat Putri bersembunyi. Saat kapal Jendral mendekati Tanjung, Putri lansung mengetahuinya, ia lansung panik, kepanikan itu tidak bertahan lama, ia lansung teringat kata-kata Sunan, dan ia pun memiliki kekuatan untuk terbang.
Putri terbang ke hutan yang berda di Desa Pengumbuk untuk menghindari Sunan. Saat Pasukan Jendral mengejarnya ke Pengumbuk ia pun terbang kembali ke Tanjung, bertahun-tahun hal itu di lakukan Putri, di saat Putri telah menjadi lemah Jendral masih mengejar Putri, ahirnya saat kapal Jendral mendekati Mahligai Putri sesuatu yang aneh terjadi, semua itu di luar dugaan Jendral, seketika ombak menjadi besar menggulung kapal Jendral, Jendral dan pasukannya tenggelam beserta kapal yang mereka kendarai, tidak lama setelah kapal Jendral tenggelam ombak berubah menjadi tanah di saat itu pula hidup Putri Mahligai berahir. Tanah yang dulunya ombak kini di beri nama Tanah Tanjung mahligai oleh Masyarakat Tebing abang untuk mengenang Putri Mahligai.

Minggu, 20 November 2011

Dampak Negatif Pacaran


Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. (Quran Surat An Nur ayat 30).
 Saudaraku, kuanggap kau sudah tahu tentang kharamnya berkhalwat (pacaran) dengan lawan jenis. Tulisan ini akan menjelaskan dampak negatif dari perbuatan tersebut. Smoga kau berusaha untuk meninggalkannya. Seperti hal-hal lain yang diharamkan dalam Islam—misalnya khomr, judi, dll—pacaran juga memiliki dampak negatif yang tidak kalah banyaknya. Berikut dampak negatif pacaran:
1. Mudah terjerumus ke perzinaan
Beberapa pelaku pacaran seringkali menyangkal tentang hal ini. Kata mereka, asalkan bisa menjaga hati, InsyaAllah tidak terjadi hal itu (waaah, perbuatan munkar kok pake InsyaAllah..). cobalah simak hadits ini:

“Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR Bukhari).

Padahal engkau tahu, yang namanya orang pacaran, pasti ada hal-hal yang tidak dibenarkan dalam islam: memandang lawan jenis, berpegangan tangan, berduaan di tempat sepi, berciuman, hingga….ah, tak usah disebutkan. Bahkan meski pacarannya hanya sebatas lewat telpon, SMS atau chatting pun, hal tersebut sudah bisa memicu terjadinya zina hati.
Semua larangan-larangan tadi ada dalil shahihnya. Sebagai contoh, simaklah hadits ini:
Rasulullah saw. berpesan “Janganlah engkau ikuti padangan dengan padangan berikutnya, karena untukmu adalah padangan yang pertama, sedangkan selanjutnya bukan untukmu.” (HR. Ahmad) Dan hadits yang terkenal : ”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai oleh mahramnya karena sesungguhnya yang ketiga adalah setan.”
Tentang dampak negatif yang pertama ini tak perlu disangkal lagi. Tak terhitung lagi jumlah pemuda muslim yang benar-benar terjerumus dalam perzinaan—yang diawali dari aktivitas pacaran. Kalau sudah berzina, berarti ia telah melakukan dosa besar yang akan menyebabkan dampak-dampak buruk lainnya—baik yang ia rasakan di dunia maupun di akhirat.
2. Melemahkan Iman
Orang yang pacaran cenderung meletakkan rasa cinta kepada kekasihnya di atas rasa cinta kepada Sang Pencipta. Tak perlu mengelak ataupun mengiyakan, sebab pernyataan ini bisa dibuktikan dengan kualitas ibadah seseorang.  Jika kualitas ibadah seseorang menurun setelah mengalami jatuh cinta, itu artinya porsi kecintaannya kepada Allah berkurang. Ia jadi jarang ke Masjid, jarang membaca Al Quran, meninggalkan shalat sunnah, bahkan beberapa hafalannya hilang, serta banyak ibadah lain yang terlewatkan.
3. ‘melatih’ kemunafikan
Orang yang berpacaran itu seringkali menipu, berusaha agar pasangannya yakin bahwa ialah yang terbaik. Memang tidak semua.. tapi umumnya begitu. Ia akan menampakkan hal-hal yang baik di depan kekasihnya. Adapun hal-hal yang buruk sebagian besar ia sembunyikan. Sebagian orang ada yang sengaja menunjukkan beberapa keburukannya kepada kekasihnya sekedar untuk meraih simpati, mencari kesamaan, mendapatkan pemakluman, atau sebagai bumbu-bumbu romantisme belaka. Namun tidak jarang orang yang berpacaran mengatakan sesuatu  yang sebenarnya bertentangan dengan hati kecilnya.
4. Menjadikan panjang angan-angan.
Orang yang sedang jatuh cinta—pacaran—seringkali teringat dengan orang yang dicintainya itu. Lalu ia memikirkan sesuatu, berandai-andai setiap waktu—tentang apa yang akan dilakukan nanti saat bertemu, tentang apa yang akan diberikan saat itu, tentang kata-kata yang akan diucapkan sebagai bumbu, dan masih banyak lagi. Padahal ummat Islam dilarang berpanjang angan-angan.
5. Mengurangi produktivitas
Jika tidak pacaran, seorang siswa tentunya bisa melakukan aktivitas lain yang lebih produktif; misal membuat karya seni, menulis artikel, cerpen, puisi, karya tulis, mengerjakan PR, atau yang lainnya. Namun seringkali produktivitasnya turun lantaran ia berpacaran.
6. Menjadikan  hidup boros
orang yang pacaran akan selalu berkorban untuk pacarnya. Bahkan uang yang seharusnya untuk ditabung bisa habis untuk bersenang-senang: membelikan hadiah pacarnya, membeli pulsa, mentraktir, nonton Film, dan yang lainnya.
7. Akan melemahkan daya kretaifitas dan menyulitkan konsentrasi, karena pikiran mereka hanya tertuju kepada pacarnya
8. Akan menyebabkan terlambatnya studi. Banyak fakta yang menyebutkan bahwa menurunnya prosentase kelulusan para pelajar adalah akibat pacaran, mereka jarang belajar, karena jalan-jalan terus dengan pacarnya, tidak pernah beli buku (karena uangnya habis untuk berenang-senang).
9. Terjadinya pertengkaran dan pembunuhan, hanya karena rebutan pacar.
10.  Tidak setia dengan pasangannya jika sudah menikah, karena masing-masing ingat dengan pacarnya yang lama, dan selalu membanding-bandingkan antara suami/ istrinya yang syah dengan pacarnya yang lama.
 11. dan dampak negatif lainnya (silahkan ditambahkan lewat ‘coment’)
“Barang siapa yang jatuh cinta, lalu tetap menjaga kesucian dirinnya, menyembunyikan rasa cintanya dan bersabar hingga mati maka dia mati syahid.”
Sungguh sangat beruntung orang yang mencintai dengan kesucian diri dan berlindung dari godaan syatan yang terkutuk. Tentunnya orang yang menjaga cintannya yang suci hingga ia meninggal dunia. Rasullulah SAW juga berpesan;
“Cintailah sesuatu itu dengan biasa-biasa saja, karena boleh jadi suatu saat nanti dia akan menjadi sesuatu yang kamu benci, dan bencilah sesuatu yang tidak kamu ketahui dengan biasa-biasa saja, karena boleh jadi suatu saat nanti dia akan menjadi sesuatu yang kamu cintai (H.R. Bukhari, Abu Daud, Tirmizi, dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah)